Lo sadar tidak sih kalau harga game, terutama yang masuk kategori AAA, makin lama makin mahal? Fenomena ini tidak cuma terjadi di luar negeri, tapi juga terasa jelas di Indonesia. Banyak game baru langsung rilis dengan harga tinggi, bahkan sejak hari pertama. Kondisi ini akhirnya memberi dampak yang tidak selalu menyenangkan, terutama buat kehidupan sosial dan kebiasaan main game banyak orang.
Game AAA dikenal sebagai game dengan skala besar dan kualitas tinggi, mulai dari grafis, cerita, sampai teknologi yang dipakai. Namun, dibalik kualitas itu, ada sejumlah faktor yang bikin harga jualnya terus naik dari tahun ke tahun.
Alasan Harga Game Semakin Mahal
Kenaikan harga game AAA bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama yang sering dibahas oleh pelaku industri dan media game global.
Biaya Produksi Semakin Bengkak
Pembuatan game AAA sekarang sudah setara dengan produksi film blockbuster Hollywood. Satu judul game bisa menghabiskan biaya hingga ratusan juta dolar AS. Dana sebesar ini digunakan untuk grafis resolusi tinggi, teknologi motion capture yang kompleks, pengisi suara profesional, serta tim pengembang besar yang bekerja selama bertahun-tahun.
Biaya Pemasaran yang Tidak Kecil
Selain produksi, publisher juga menggelontorkan dana besar untuk promosi global. Mulai dari trailer sinematik, iklan digital, kerja sama dengan kreator konten, sampai event internasional. Biaya pemasaran ini pada akhirnya ikut memengaruhi harga jual game di pasaran.
Baca juga: 11 Game PC Paling Serem

Photo by @rmrdnl
Inflasi dan Biaya Operasional Global
Kenaikan gaji karyawan, biaya distribusi digital dan fisik, serta inflasi ekonomi global membuat publisher harus menyesuaikan harga. Banyak perusahaan game menganggap kenaikan harga sebagai cara menjaga kestabilan bisnis di tengah biaya yang terus naik.
Standar Harga Baru Industri Game
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak publisher besar mulai menetapkan standar harga baru untuk game AAA, terutama di konsol generasi terbaru. Ketika satu publisher menaikkan harga, yang lain cenderung mengikuti agar tidak merusak standar pasar.
Sejumlah game AAA jadi sorotan karena harga rilisnya dianggap tidak sebanding dengan konten yang diterima pemain. The Outer Worlds 2 sempat menuai kritik karena diumumkan di kisaran 79,99 dolar AS, jauh di atas standar lama game AAA. Skull and Bones juga dirilis dengan harga penuh, meski banyak gamer menilai kontennya minim untuk ukuran game besar. Concord dinilai terlalu mahal jika melihat kualitas dan skala gameplay, sementara Marvel’s Spider-Man 2 tetap memicu debat karena harga tinggi akibat biaya produksi besar terasa berat bagi banyak pemain.

Photo by @onurbinay
Dampaknya Ke Gamer
Harga game yang makin tinggi memicu perubahan besar di kebiasaan bermain gamer. Banyak pemain kini memilih menunggu diskon musiman dan tidak lagi membeli game di hari rilis. Sebagian lainnya beralih ke layanan langganan seperti Xbox Game Pass atau PlayStation Plus karena lebih hemat dan memberi akses ke banyak game tanpa harus membeli satu per satu.
Di tengah kondisi ini, game indie semakin diminati. Bukan hanya karena harganya lebih murah dibanding game AAA, tapi juga karena menawarkan ide segar, gameplay yang berbeda, komunitas aktif, dan kualitas yang sering kali mengejutkan. Bagi banyak pemain, game indie kini menjadi alternatif yang lebih terjangkau namun tetap memuaskan.
Jika tren kenaikan harga terus berlanjut, game AAA berpotensi menjadi hiburan yang semakin eksklusif. Tantangan terbesar industri game ke depan adalah menjaga keseimbangan antara ambisi kualitas tinggi dan harga yang masih masuk akal bagi pemain seperti lo.



No one has commented yet. Be the first to comment on this article!